Kusta

09 July 2017 - Kategori Blog

Kusta

Kusta yang dikenal juga dengan nama lepra atau penyakit Hansen yaitu penyakit yang menyerang kulit, system saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernafasan atas, dan mata. System saraf yang terserang dapat mengakibatkan penderitanya mati rasa.

Kusta dikarenakan oleh semacam bakteri yang membutuhkan saat 6 bln. sampai 40 th. untuk berkembang didalam badan. Sinyal serta tanda kusta mungkin keluar sesudah bakteri menginfeksi badan pasien sepanjang 2 sampai 10 th..

Walau dahulu pernah jadi penyakit yang ditakuti, sekarang ini kusta termasuk penyakit yang gampang diobati. Ironisnya, sampai sekarang ini banyak daerah di Indonesia masih tetap dipandang jadi lokasi endemik kusta oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Tanda Kusta

Tanda serta sinyal kusta sulit dilihat serta keluar begitu lambat. Sebagian salah satunya yaitu :

Mati rasa. Tidak dapat rasakan pergantian suhu sampai kehilangan sensasi sentuhan serta rasa sakit pada kulit.

Pembesaran pembuluh darah, umumnya di sekitaran siku serta lutut.

Pergantian bentuk atau kelainan di wajah.

Hidung terhalang atau berlangsung mimisan.

Keluar luka namun tidak merasa sakit.

Rusaknya mata. Mata jadi kering serta tidak sering mengedip umumnya dirasa sebelumnya keluar tukak memiliki ukuran besar.

Lemah otot atau kelumpuhan.

Hilangnya jari jemari.

WHO menggolongkan kusta jadi dua type berdasar pada keadaan luka pada kulit pasien, yakni :

Paucibacillary. Ada luka kulit tanpa ada bakteri penyebabnya lepra pada bercak kusta di kulit.

Multibacillary. Ada luka kulit dengan bakteri penyebabnya lepra pada bercak kusta di kulit.

Penyebabnya Kusta serta Aspek Resiko

Bakteri Mycobacterium leprae jadi penyebabnya paling utama kusta. Bakteri ini tumbuh cepat di bagian badan yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, muka, kaki serta lutut.

  1. leprae termasuk juga type bakteri yang cuma dapat tumbuh berkembang didalam sebagian sel manusia serta hewan spesifik. Langkah penyebaran bakteri ini yaitu lewat cairan dari hidung yang umumnya menebar ke hawa saat pasien batuk atau bersin.

Terkecuali penyebabnya intinya, ada pula beberapa aspek yang dapat tingkatkan resiko seorang untuk menderita penyakit ini. Sebagian aspek resiko itu mencakup :

Lakukan kontak fisik dengan hewan penebar bakteri kusta tanpa ada sarung tangan. Sebagian salah satunya yaitu armadilo serta simpanse afrika.

Lakukan kontak fisik dengan teratur dengan pasien kusta.

Berada tinggal di lokasi endemik kusta.

Menanggung derita cacat genetik pada system kebal badan.

Diagnosis Kusta

Umumnya masalah kusta didiagnosis berdasar pada temuan klinis, karna pasien umumnya berada tinggal di daerah yang minim perlengkapan laboratorium. Bercak putih atau merah pada kulit yang mati rasa serta penebalan saraf perifer (atau saraf yang terdapat dibawah kulit bisa teraba jadi membesar bahkan juga tampak) sering jadikan basic pertimbangan diagnosis klinis. Pada lokasi endemik kusta, seorang dapat dipandang menderita kusta jika tunjukkan satu diantara dua sinyal paling utama di bawah ini :

Ada bercak pada kulit yang mati rasa.

Sampel dari usapan kulit positif ada bakteri penyebabnya kusta.

Penyembuhan Kusta

Sebagian besar pasien kusta yang didiagnosis dengan klinis juga akan di beri gabungan antibiotik jadi langkah penyembuhan sepanjang 6 bln. sampai 2 th.. Dokter mesti meyakinkan type kusta dan terdapatnya tenaga medis yang mengawasi pasien untuk memastikan type, dosis antibiotik, dan waktu penyembuhan.

Pembedahan biasanya dikerjakan jadi sistem kelanjutan sesudah penyembuhan antibiotik. Maksud prosedur pembedahan untuk pasien kusta mencakup :

Menormalkan peranan saraf yang rusak.

Melakukan perbaikan bentuk badan pasien yang cacat.

Kembalikan peranan anggota badan.

Resiko komplikasi kusta bisa berlangsung bergantung dari seberapa cepat penyakit itu didiagnosis serta diobati dengan efisien. Sebagian komplikasi yang mungkin saja berlangsung bila kusta terlambat diobati yaitu :

Mati rasa atau kebas. Kehilangan sensasi rasakan rasa sakit yang dapat buat orang berisiko cidera tanpa ada mengerti serta rawan pada infeksi.

Rusaknya saraf permanen.

Otot melemah.

Cacat progresif. Misalnya kehilangan alis, cacat pada jari kaki, tangan serta hidung.

 

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter